Monday, February 13, 2012

Sikap mental yang istimewa

Ada teman yang bertanya tapi berbau keluhan yang muncul, kurang lebih bunyinya begini:



Kenapa, walau saya sudah memiliki sikap mental yang baik, kehidupan masih terlihat kurang bersahabat terhadap saya dan pekerjaan saya?



Jawabannya: Karena kamu masih memeliharan cara berpikir bodoh.

Kenapa bodoh, karena dia berpikir ini jaman megalitikum (batu), yaitu jaman dimana mereka yang merasa sudah memiliki sikap mental baik bisa menang dipersaingan.



Di jaman itu mungkin....punya sikap mental yang baik, sudah merupakan satu keunggulan raksasa dibanding yang lain.



Tapi dijaman modern seperti ini, sikap mental baik mah biasa.....

Ratusan juta orang punya sikap mental baik. Terlalu banyak orang memiliki sikap mental baik.



Jadi kalau menang dikehidupan ini, naiklah satu level yang lebih tinggi,yaitu sikap mental yang istimewa.



Dulu, jaman SMU, saya pernah bergabung di klub pecinta alam yang dipanggil GALASPALA.



Dijaman itu, dalam bahasa berbeda, kurang lebih kita menganut sistem prinsip yang sama yaitu:



Nggak usah bangga kalau bisa naik gunung di pulau jawa, karena itu bukan lagi satu kebanggan yang bisa dipamer (baik secara halus maupun kasar)

Tapi milikilah pengalaman yang lebih dari itu.



Kita ingat dulu, beberapa senior pernah ejek-ejek mereka-mereka yang mendramatisir sedemikian rupa, kesulitannya mendaki gunung gunung tinggi di jawa tengah.



PAdahal sebetulnya itu sudah merupakan pengalaman lumayan.



Diurusan pekerjaan profesional, saya mengkatogorikan ada 3 jenis sikap mental:



1. Yang paling hancur dan mengenaskan adalah mereka, yang berada di komunitas yang punya sikap mental baik, tapi gagal menyamakan standardnya.

Jenis orang-orang yang selalu butuh dimotivasi, ditarik,dibantu angkat, diseret-seret oleh orang lain, hanya untuk bisa sama distandard minimum dengan sekelilingnya.



Ini jenis orang yang kalau di group pecinta alam kita dipanggil manusia-manusia cengeng. lembek dan menyusahkan.

jenis orang-orang dengan kontribusi minimum tapi ekspektasi tinggi.

Orang-orang yang selalu punya kesulitan untuk menemukan partner naik gunung bareng, karena adat jeleknya.



Kenapa kita panggil adat jelek, karena dia sebetulnya bisa rubah hal hal ini dengan mudah, tapi sikap cengeng dan manjanya demikian kuat, merubah/upgrade sikap mental naik 1 level lebih tinggi jadi seperti hal mustahil untuknya.



Saran saya, kalau ketemu orang-orang jenis ini, menghindarlah sejauh-jauhnya,karena dia bukan tidak bisa ditolong untuk bangkit, tapi dia memilih dan menyukai situasinya yang seperti itu.



2, kelompok berikutnya adalah yang memiliki sikap mental baik, persis sama seperti sekelilingnya.

Rumus persaingan khan bunyinya begini:



Untuk bisa menang dalam persaingan khan kita harus memiliki kelebihan yg significant donk...

Dan makin banyak kelebihan dibanding orang lain, maka peluang menang akan jauh lebih besar.



Nah, apa yang terjadi kalau kelebihan kita hanyalah sama dengan orang lain ?

Faktor apa yang bisa memastikan kita menang?



3, Terakhir adalah orang yang punya sikap mental istimewa.

apa sih sikap mental istimewa itu?



Sikap mental yang saat orang-orang lain berkata ini sepertinya sudah berakhir, dia akan berkata ini belum berakhir sampai segala sesuatunya terjadi seperti yang saya rencanakan dari awal.



SIkap mental yang saat orang-orang lain memutuskan untuk bertindak sesuai "apa yang ada didepan mata", dia bertindak berdasarkan VISI dan yang dia percayai.



Sikap mental yang mampu merealisasikan sampai terwujud, hal-hal yang dianggap banyak orang sebagai sebuah kemustahilan.



Sikap mental yang saat orang-orang lain puas dengan pencapaian yang biasa-biasa saja, dia tidak akan berhenti hingga potensi maksimalnya terpenuhi.



Sikap mental yang menginspirasi orang-orang yang sebetulnya sudah memiliki sikap mental baik.



Sikap mental yang tidak dikalahkan oleh keadaan sulit, dihancurkan oleh cerita kegagalan orang lain, dan dibuat putus asa oleh banyaknya cerita pahit dimasa lalu.



Inilah jenis sikap mental yang akan mengubah dunia bukan yang akan diubahkan dunia.



Inilah sikap mental yang prinsip pareto gambarkan sebagai:



Kelompok 20% populasi manusia yang mengubah 80% wajah dunia bukan jenis 80% populasi manusia dan hanya berkontribusi terhadap perubahan 20% wajah dunia.

Tentukan jenis sikap mentalmu, dan hidupi takdirmu.



Melbourne, 14 juli 2011



Wishnu iriyanto

No comments: