Monday, February 13, 2012

Pesan dari melbourne (15) : Pondasi yang mampu bertahan terhadap aneka goncangan

Saya percaya, kita, baik itu manusia maupun organisasi, punya kecenderungan untuk memoles diri karena banyak alasan yang mungkin saja sama tapi mungkin juga berbeda, entah untuk kelihatan baik, untuk kelihatan solid, untuk mengesankan orang lain, untuk menggentarkan orang lain (lawan), agar orang berpandangan kita adalah seorang yang layak dipercaya, atau lain sebagainya.

Tapi diantara yang memoles banyak permukaan lahiriahnya, sebetulnya nggak banyak yang melakukan penguatan fondasi-nya dengan derajat/level passion yang sama dengan polesan lahiriah-nya.

Umum terjadi memang, tetapi bukan hal baik bila konsepnya adalah MASADEPAN, bukan sekedar tujuan jangka pendek.

Ibarat rumah, boleh jadi kelihatan bagus, megah dan mengesankan, tapi bila goncangan datang, baru terlihat, rumah tersebut punya fondasi yang baik atau tidak.

Seorang pakar manajemen sekali waktu pernah berkata, goncangkanlah organisasimu CUKUP SERING, untuk menyaring mereka (anggota organisasi) yang punya fondasi yang kuat atau tidak.

Karena tanpa pondasi yang kuat, seseorang/organisasi tidak pernah akan bisa RELEVAN terhadap perubahan jaman, dan seperti yang semua orang berakal waras tahu, kita sudah (bukan lagi sedang) ada disituasi dimana peta masalah terus menerus berganti arah.

Satu jaman yang menakutkan untuk organisasi yang gagal menyesuaikan layar mereka dengan cepat, tetapi satu jaman yang menawarkan berbagai kesempatan bagi organisasi yang responsif.

Dan seperti semua orang tahu, organisasi disusun oleh manusia, dan bila seorang mengatakan bahwa organisasi tersebut punya fondasi yang bagus, itu artinya organisasi tersebut berisikan manusia-manusia dengan pondasi yang kuat.

Seiring dengan kedewasaan, saya mengerti, bahwa organisasi yang berisikan orang-orang ber-pondasi kuat bukan karena mereka sejak awal sekali sudah mampu merekrut manusia-manusia yang berpondasi kuat, tetapi lebih karena organisasi tersebut punya BUDAYA dimana orang orangnya punya kebiasaan memperkuat pondasi mereka masing-masing.

Dan budaya tersebut dibangun oleh budaya lain yang dipanggil BUDAYA menggoncang.

Jadi rekan rekan seperjuangan, suka atau tidak suka, perhatikan pondasi kita masing masing, jangan sampai goncangan goncangan yang terjadi, baik sekarang maupun dimasa depan, baik skala kecil maupun besar, meruntuhkan bangunan yang sudah susah payah kita poles, tetapi kita berharap goncangan membuat kita bisa meraih banyak kesempatan & keuntungan, karena disaat yang sama, goncangan juga menerpa semua orang, dan saat lawan-lawan kita gagal bertahan atasnya kemudian kita akan berhak mendapat HADIAH TERBESAR karena kita adalah orang terakhir yang tertinggal setelah masa penggoncangan lewat.

Bangun dan jadilah dewasa anakku.
Buka matamu dan perbaharuilah pengetahuan, pengertian, pemahaman, paradigma dan pewahyuan-mu.


Wishnu iriyanto

No comments: