PAda suatu hari sang mentor kedatangan orangtua dari salah seorang murid yang baru saja bergabung kurang dari sebulan di program mentoring bisnis bagi para pemula.
Orangtua; Saya berterima kasih untuk bimbingan bisnis yang telah diberikan untuk anak bungsu saya. Walau mungkin dia belum genap sebulan bergabung di club ini, hanya saja saya sudah bisa merasakan banyak perubahan di pola berpikirnya dan terlihat ada proses kedewasaan serta meningkatnya tanggung jawab yang sementara berlangsung didirinya.
Mentor; Kalaupun benar itu yang terjadi, maka credit tertinggi seharusnya tetap diberikan pada sang anak. Karena saya hanya bertindak sebagai pengarah.
Dan sebagai pengarah yang hanyalah merupakan elemen luar, tidak akan bisa pernah efektif bila sang anak sendiri tidak pernah memutuskan dalam dirinya untuk berubah ke sebuah arah tertentu.
Tapi terlepas dari itu, secara jujur harus saya akui, dengan melihat sikap hatinya terhadap proses yang berlangsung, karakternya yang benar benar istimewa, caranya yang unggul dalam memperlakukan orang orang disekelilingnya sehingga dengan mudah dia dapat memenangkan hati dan simpati semua orang disekelilingnya untuk mengikuti apapun yang dia kehendaki serta keberanian dan kebulatan tekadnya setiap kali memutuskan sebuah perkara sulit, justru saya yang berterimakasih bisa berkesempatan mampir walau sebentar dalam hidupnya dan berkontribusi kecil dalam perjalanan karir bisnisnya, karena walau dia masih sangat muda, dia memperlihatkan bakat dan perawakan cikal bakal seorang raksasa dalam kehidupan dimasa depan. Dengan kata lain, saya percaya dia mempunyai kualitas NAGA, atau kualitasnya orang orang BESAR.
Saya betul betul yakin kalau pencapaian pribadinya akan menjulang melampaui orang rata rata.
Orangtua; Ah masa mentor……padahal anak saya ini kurang begitu sukses di pendidikan akademik…lihat saja universitas yang diambilnya, bukan universitas bintang 5 di Melbourne. Beda dengan kakaknya yang hampir selalu jadi yang terbaik di kelas akademiknya, selalu berhasil masuk disekolah sekolah terbaik dan sekarang sudah bekerja selama beberapa tahun di perusahaan internasional di Indonesia.
Mentor; Saya dari dulu tidak pernah percaya bahwa latar belakang pendidikan akademik yang mengesankan merupakan satu satunya indicator dalam memprediksi keberhasilan seseorang dalam dunia bisnis.
Apakah anak sulung bapak yang pintar tadi langsung bisa sukses dalam bisnisnya di Indonesia?
Orangtua; Nah memang kelihatannya dia punya masalah soal jiwa bisnisnya. Beberapa kali saya modali dia dengan uang yang cukup besar tapi end up nya selalu gagal. Padahal persiapan dalam analisa dan proposalnya sangat hebat. Dia sepertinya kurang tabah dan kurang ulet dalam merintis bisnis, walau secara kecerdasan, dia sangat pintar.
Dia sepertinya tidak cukup siap untuk ditolak banyak orang bila sedang menawarkan sesuatu, dia juga tidak cukup tahan menderita bila ada sebuah tekanan berat menghantam bisnisnya, tapi terlebih lagi dia tidak cukup hebat dalam memenangkan kesetiaan para pengikutnya.
Makanya akhirnya saya dan dia bersepakat untuk menghentikan semua bisnis mula mula-nya sebelum terlanjur rugi lebih besar dan saya menyarankan dia untuk bekerja di bawah orang lain saja.
Dan karena pencapaian akademiknya yang benar benar bagus, dia tidak kesulitan untuk masuk diperusahaan asing dengan gaji awal yang cukup ideal.
Mentor; Kalau tidak keberatan, boleh saya bertanya apa latar belakang profesi bapak?
Orangtua; Saya seorang pejabat di pemerintahan.
Mentor; Apakah bapak pernah punya pengalaman langsung dan terlibat dalam pengelolaan bisnis dimasa lalu atau bapak pernah dibesarkan dalam tradisi keluarga bisnis?
Orangtua; Belum pernah sama sekali, makanya saya punya cita cita kedua anak saya bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses di generasinya. Untuk itu saya sekolahkan mereka semua ke sekolah terbaik dan bila perlu termahal sekalipun asalkan anak anak saya bisa menjadi orang orang bisnis yang sukses dimasa depan.
Mentor; Apakah sepanjang usia sekolah mereka pernah belajar merintis bisnis kecil apapun atau magang di bisnis manapun?
Orangtua; Saya sangat larang apabila mereka berniat memulai bisnis dimasa sekolah, bahkan dimasa kuliah juga, karena saya merasa saya masih sanggup untuk biayai mereka, jadi buat apa mereka belajar cari uang, lagipula sekolah sekolah bagus mereka punya jam sekolah sangat panjang serta banyak kegiatan les tambahan sesudah sekolah, jadi bila mereka belajar merintis bisnis apapun di masa sekolah dan kuliah, itu akan meresikokan nilai nilai akademik mereka.
Mentor; sepertinya saya bisa melihat akar dari semua masalah bapak, yaitu kenapa anak pertama bapak tidak benar benar memiliki semua sifat dan ketajaman bisnis seperti yang seharusnya.
Orangtua; Oh ya. Bisa kasih saya gambaran apa akar masalah saya?
Mentor; Ok….bisa advise saya apa hobi dan minat olahraga bapak yang utama?
Orangtua; Sepakbola, tapi apa hubungannya dengan akar masalah saya? (nada bingung).
Mentor; Saya berikan sebuah ilustrasi kecil dari olahraga yang bapak sukai agar apa yang hendak saya sampaikan bisa mudah dicerna.
Ada sepasang orangtua yang bercita cita anaknya menjadi seorang pemain sepakbola kelas dunia. Mereka menabung begitu banyak uang agar anaknya bisa bersekolah di SD, SMP, SMU, dan UNIVERSITAS terbaik yang mengajarkan teori teori kelas dunia soal sepakbola.
Pada saat SD, sementara anaknya bersekolah di SD termahal dan terbaik didunia sepakbola, dinegeri nya, sang anak tanya pada orangtuanya, apakah saya boleh bergabung dengan sebuah team dan mengikuti liga sepakbola junior dilingkungan kita?
Orangtuanya menjawab; Jangan anakku sayang. Nanti kamu kecapek-an sehingga sekolah kamu terganggu, nanti kamu bisa cedera dan itu sangat menyakitkan, nanti kamu akan sulit berkonsentrasi disekolah teori sepakbola kamu yang sekarang, dan nanti saja belajar main sepakbolanya realnya setelah kamu benar benar telah menyelesaikan keseluruhan sekolah kamu.
Sang anakpun patuh, dia menghabiskan SD teori sepakbolanya dengan sukses dan nilai tertinggi.
Setelah dia masuk SMP teori sepakbola yang terbaik dikota itu, dia tanya lagi sama orangtuanya, apakah dia boleh mulai main sepakbola dan bergabung dalam liga sepakbola lokal.
Orangtua melarang dan menjawab dengan jawaban yang persis sama seperti jawaban diatas.
Kemudian sekali lagi, anaknya merupakan lulusan terbaik di SMP nya dan melanjutkan ke SMU terbaik dalam teori sepakbola diseluruh negeri itu.
Ketika anaknya ajukan permintaan yang sama untuk bisa bergabung di liga local, orangtua tetap pada pendiriannya, yaitu nanti takut anaknya lelah, sakit, cedera, turun prestasi akademiknya serta tidak bisa mempertahankan kebanggaan orangtuanya akan nilai nilai terbaik.
Sekali lagi anaknya patuh.
Dan kejadian ini berlangsung bahkan sampai anak tersebut selesai S-2 di universitas terbaik diseluruh dunia untuk bidang teori sepakbola.
Setelah anaknya berusia sekitar 22 tahun, selesai master dengan nilai luarbiasa hebat, maka orangtuanya bilang; nah anakku, sekaranglah saatnya kau mempraktekkan semua ilmu dan teori sepakbola yang kau pelajari disekolah dari SD – MASTER.
Berdasarkan nilai nilai akademik yang luarbiasa itu, saya ingin kamu menjadi atlet sepakbola kelas dunia. Jangan kecewakan saya anakku.
Tapi setelah ditunggu beberapa tahun, ternyata permainan sepakbola nyata si anak benar benar mengecewakan dan dangkal.
Jangankan kelas dunia, permainan sepakbolanya tidak lebih baik dari pemain sepakbola ala TARKAM (antar kampung) yang rata rata pesaingnya cuma lulusan local yang tidak sekolah tinggi tinggi tetapi bermain sepakbola semenjak dini sekali dan bermain sepakbola sepanjang hidup mereka.
Permainan sang anak jauh dari hebat karena dia selalu takut cedera, tidak punya feeling dan naluri sepakbola yang benar serta payah di stamina.
Si orangtua terbingung bingung dengan fenomena ini.
Kira kira menurut bapak, apa akar penyebab masalah ini?
Orangtua; Saya bisa menangkap apa yang coba mentor sampaikan kesaya, tapi bisakah mentor saja yang menjabarkannya pada saya.
Mentor; Secara singkat saya hanya mau bilang;
Sekedar sekolah saja tidak cukup mengembangkan naluri, intuisi, daya tahan, daya juang, ketabahan, karakter pribadi, keuletan, seorang pebisnis.
Nilai akademik yang hebat tidak jamin sang anak akan tajam dan hebat dalam mengelola bisnisnya, juga bukan jaminan dia akan jadi eksekutor bisnis yang mumpuni.
Prestasi akademik tidak serta merta membuat anak anak menjadi seorang pemberani dalam ambil resiko dan teguh dalam setiap badai kehidupan yang menempa sebagai akibat keputusan yang dibuatnya.
Sekolah mungkin bisa memperlengkapi teori dengan baik, tetapi untuk bisa berhasil di bisnis, dibutuhkan jauh lebih banyak dari sekedar teori belaka.
Hal hal yang saya sebutkan diatas tadi minus teori, adalah hal yang pada umumnya kita pelajari dikehidupan nyata.
Sekolah tidak dapat memperlengkapi hal hal diatas secara maksimal.
Sebagaimana seperti yang sekolah tawarkan yaitu pengetahuan teori yang lengkap, hal ini bukanlah jawaban tunggal akan pencarian kita atas rahasia rahasia bisnis.
Dalam kasus anak sulung bapak, tidak ada waktu terlambat, walau mungkin dia sempat kehilangan beberapa tahun emasnya untuk belajar dasar dasar bisnis.
Saran saya, bila ia masih ingin menjadi orang bisnis, mulailah berusaha kembali dan nikmatilah semua kegagalan itu dan kegagalan masa depan sebagai pengalaman berharga sebagaimana telah dialami oleh seluruh orang bisnis dimuka bumi.
Karena ada prinsip;
Siapa takut jatuh dia tidak akan pernah benar benar naik tinggi.
Sambil mengingat prinsip lain, yaitu;
Tidak ada jalan pintas untuk sebuah proses kematangan jiwa seorang pebisnis.
Tuhan memberkati dan melindungi setiap pejuang yang bertekun dalam merintis jalan hidupnya.
Wishnu iriyanto
Managing Director of
FUTURE education (agent sekolah ke luar negeri)
&
FUTURE English (Satu-satunya kursus bahasa inggris bergaransi IELTS 6.5 / TOEFL 580 dengan angka keberhasilan 100%)
Saturday, October 4, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment