Friday, October 10, 2008

Nama seperti apa yang hendak anda tinggalkan kelak ?



Tetsugen, murid zen, merencanakan karya besar mencetak 7000 buah buku sutra, yang sampai saat itu hanya ada dalam bahasa tiong hwa.



Ia menjelajahi panjang dan luasnya Negara jepang mengumpulkan dana untuk rencana ini. Beberapa orang kaya memberinya sebanyak 100 butir emas, tetapi kebanyakan ia mendapatkan uang receh dari petani.

Tetsugen menyatakan terima kasih sama kepada setiap penderma, tidak peduli jumlah uang yang diberikannya.



Sesudah selama 10 tahun ia akhirnya mengumpulkan dana yang diperlukan untuk karya itu. Justru waktu itu sungai uji meluap dan ribuan tertinggal tanpa makanan dan perumahan. Tetsugen membagikan semua uang yang ia kumpulkan bagi rencananya untuk rakyat sengsara ini.



Lalu ia mulai mengumpulkan dana lagi. Lagi beberapa tahun lewat, sebelum ia mendapatkan uang yang dibutuhkan, lalu ada wabah menjalar diseluruh Negara, maka tetsugen memberikan semua yang ia kumpulkan untuk meringankan penderitaan.



Sekali lagi ia mengadakan perjalanan dan dua puluh tahun kemudian, cita citanya punya kitab suci dalam bahasa jepang akhirnya menjadi kenyataan.



Percetakan yang menerbitkan buku pertama dari sutra itu ada di pertapaan obaku, di Kyoto.



Orang jepang menceritakan kepada anak anaknya, bahwa tetsugen menerbitkan 3 kali cetakan sutra seluruhnya, dan bahwa dua yang pertama tidak bisa dilihat dan jauh lebih baik dari pada yang ketiga.





(dikutip dari buku; Doa sang katak 1, karangan Anthony de mello)







Dunia sekarang cenderung mengajarkan bahwa apa yang dapat kelihatan lebih bernilai dari yang tidak terlihat.



Dunia sepertinya menaruh respek nyata secara berlebihan terhadap sampul dari seorang manusia dibanding isi dari seorang manusia.



Bahkan tidak sedikit dari kita yang sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung mendewa-dewa kan seorang yang memiliki uang yang banyak, tidak perduli darimana uang itu berasal dibandingkan dengan keagungan jiwa manusia.



Secara sederhana, saat ini kita hidup didunia yang menganggap kepemilikan materi sebagai sasaran terpenting untuk dikuasai dan dimiliki, dengan cara bagaimanapun, dibandingkan kemuliaan dan keagungan hidup.



Jaman dulu, seorang koruptor, maling dan pencuri merasa malu untuk menunjukkan hasil jarahannya dan tingkah kotornya secara mencolok dimuka umum dan berharap sesedikit mungkin orang yang tahu hal tabu tersebut.



Tapi sekarang, begitu banyak orang yang menguasai apa yang bukan haknya sendiri mempertontonkan ¡prestasi¢nya dengan mencolok bahkan cenderung pamer melalui rumah mewahnya yang bagaikan istana, mobil mobil mahalnya nan langka dan gaya hidup borjuisnya.



Tanpa malu, mereka seolah ingin berkata pada seluruh dunia, aku orang terpilih, aku manusia unggulan, aku pribadi istimewa, aku layak dapat semua hal baik dalam hidup termasuk pengakuan, kehormatan dan kemuliaan karena hidupku ¡berprestasi¢ dan aku telah menorehkan ¡sebuah pencapaian besar dalam kehidupan.¢



Didalam rumah saya di tanjung priok, bertahun tahun sejak saya masih SD kelas 6, tinggalah seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani mereka yang tersisih dalam kehidupan.



Termasuk jiwa jiwa yang terabaikan di penjara penjara, para gelandangan dan pemulung serta para janda janda miskin disekitar lingkungan.



Karyanya tidak cukup besar untuk bisa diliput media massa, dan saya juga ragu kalau dia berminat untuk mendapat publisitas model itu.



Saya tidak pernah tahu persis berapa umurnya sekarang, tapi saya tahu pasti umurnya tidak kurang dari 40an. Karena dedikasinya yang full time terhadap mereka yang kurang beruntung, urusan menikahpun jadi prioritas nomor sekian, alias dia belum pernah menikah hingga kini.



Dia begitu peduli atas kebutuhan kebutuhan kecil dari orang orang yang dilayaninya seperti sabun, tikar, shampoo, sikat gigi, sepatu boot bagi para pemulung dan lain sebagainya.



Dia tidak punya income rutin bulanan karena dia toh tidak bekerja professional sama sekali, tapi menurutnya, ada saja jalan jalan Tuhan dalam menggerakkan hati para donatur kecil kecilan yang berbeda beda tetapi punya beban dan panggilan yang sejenis.



Saat ini saya memimpin dan mengelola organisasi dengan lebih dari 70 anggota yang secara full time terlibat, tapi cerita ilustrasi diatas memberi saya pemahaman baru bahwa keagungan sebuah karya manusia bukan ditentukan oleh apa yang kelihatan di laporan kerja, tetapi bagaimana dampaknya langsung bisa dirasakan oleh orang orang yang membutuhkan.



Saya sangat percaya bahwa seorang akan begitu agung dan mulia dimata TUHAN walau dia tidak memiliki pekerjaan dan belum mendapat jodoh sekalipun tapi hidupnya merupakan sebuah berkat dan kesaksian hidup yang nyata bagi begitu banyak orang yang membutuhkan.



Saya pribadi juga percaya bahwa memiliki perusahaan sebesar apapun juga serta memiliki rumah megah bagai istana tapi kehidupannya tidak memiliki dampak terhadap kemanusiaan sama sekali, maka saya berpendapat itu belum merupakan bukti kehidupan yang sukses.



Saya menempatkan sumbangan nyata terhadap kemanusiaan sebagai indikator pertama apakah seorang bisa dinilai sebagai manusia agung, mulia dan memiliki kebesaran hidup.


Seperti pepatah bilang bahwa manusia mati meninggalkan nama, maka kira kira bila kita mau meluangkan waktu sejenak untuk membayangkan saat dimana kita sudah tidak lagi eksis di dunia fana ini, nama seperti apakah yang kelak saya dan anda ingin tinggalkan;


Nama sebagai seorang egois yang mungkin hartanya banyak tapi hanya hidup bagi dirinya dan keluarganya semata dan tidak mempunyai goresan tinta emas sama sekali dalam kemanusiaan,


Atau


Nama yang harum dimana orang orang akan berkata, dibawah nisan ini terkubur manusia istimewa yang pernah hidup yang karena keberadaannya, begitu banyak orang tercerahkan, begitu banyak orang tidak berhenti memiliki harapan dan begitu banyak orang dari generasi ke generasi secara langsung atau tidak langsung memperoleh manfaat nyata atas hidupnya.

Kehidupannya benar benar jadi berkat dan kesaksian hidup bagi siapapun yang pernah mengenalnya.

Dan hanya dengan mengingat namanya saja, kenangan harum merebak seperti wangi-wangi an yang abadi.


Tuhan memberkati dan melindungi setiap pejuang yang bertekun dalam merintis jalan hidupnya.

No comments: