Saturday, October 4, 2008

Orang tua sebagai mentor pribadi

Di banyak kesempatan, saya berjumpa banyak individu yang memiliki ambisi besar untuk bisa berkarier dalam dunia bisnis/wiraswasta.

Satu sudut kecil yang saya ingin angkat saat ini adalah "proses pembelajaran dan mentoring" nya.
Memang dalam proses bertumbuhnya bisnis atau proses dalam mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam di bisnis, mereka memerlukan banyak pribadi pribadi yang memberikan suntikan 'vitamin dan hormon' dalam bentuk nasihat, pengajaran dan motivasi secara rutin dan berkelanjutan yang seringkali disebut sebagai mentor.

Menurut saya proses pertama dalam menciptakan mentor pribadi mungkin dimulai dari menemukan tokoh tokoh dengan nilai nilai yang kita anggap cocok dengan rencana besar pengembangan diri kita yang nantinya kita akan jadikan sebagai idola.
Misalnya, saya meng-idola kan pendeta di gereja saya sebagai pribadi yang sangat ingin saya tiru dalam beberapa hal.
Jadi saya tetapkan secara tdk langsung dan tanpa sepengetahuan beliau, bahwa dia adalah salah satu mentor pribadi saya, dimana standar nilai nilai, pengajaran dan teladan beliau berusaha saya jadikan acuan kemana saya akan kuasai suatu saat.
.
Pendeta saya ini berumur awal 30. Dia tdk berjiwa bisnis, tapi dia merupakan pribadi yang berkomitmen tinggi terhadap profesinya, melayani Tuhan dengan sangat setia, pengajaran pengajarannya sangat bermutu dan selalu memotivasi jemaat untuk bisa menjadi terbaik dalam setiap profesi apapun yang ditekuni oleh masing masing kita.
Yang membuat saya meng-idolakan beliau, adalah karena dia bukan hanya cakap dalam mengajar tapi juga dia cakap dalam memberi teladan. Dimana saya percaya, dalam organisasi yang efektif (seperti gereja atau perusahaan), teladan berbicara lebih banyak dari sekedar pengajaran yang bertubi tubi.

Misalnya, suatu waktu ada pelatihan selama setahun di singapura yang dihadiri oleh ratusan pelayan pelayan Tuhan dari seluruh dunia, dan dia terpilih sebagai salah satu wakil dari indonesia.
Di akhir masa pelatihan nya dia terpilih sebagai peserta terbaik dari seluruh dunia. menurut saya ini benar benar sebuah teladan yang baik dari pemimpin jemaat yang notabene selalu mendorong jemaatnya untuk bisa memiliki "winning spirit" dan memperlihatkan konsistensi pengajaran yang dia lakukan terhadap praktek kehidupannya sehari sehari.

Dua tahun lalu saya bicara bicara dengan dia mengenai rencana nya pergi ke hawaii utk menghadiri seminar tingkat dunia tentang kaum muda. Sebagai jemaat, saya bangga dia di umur nya bisa terpilih utk mewakili indonesia dalam forum itu, ternyata yang membuat saya lebih berkesan lagi, belakangan saya tahu, dia bukan hanya menghadiri, tapi juga menjadi salah satu pembicara utama didalamnya. Ini merupakan pencapaian luarbiasa di umurnya. ini teladan.

Selain menyerap nilai nilai tentang konsistensi antara pengajaran terhadapa aplikasi lapangan, saya juga belajar banyak tentang nilai nilai kesetiaan, integritas serta dedikasi yang tdk putus terhadap profesi yang ditekuni.

Orang orang yang saya tahu secara umum, berusaha menemukan mentor mentor pribadi mereka secara terus menerus di luar sana dengan pendekatan seperti berikut;

1. Orang orang yang memang mereka kenal langsung sudah berhasil didunia bisnis

2. Menjadikan tokoh tokoh bisnis di luar sana menjadi mentor secara tdk langsung dan berusaha mendapatkan inspirasi melalui buku buku karangannya, kaset kasetnya,dan seminar seminar nya.

3. Mentor juga bisa berbentuk orang orang berhasil di luar bidang bisnis misalnya; ada teman yang saya kenal, dimana dia meng-idolakan seorang pemanjat tebing muda indonesia keturunan manado yang berhasil meraih gelar juara tingkat dunia dalam beberapa kategori secara berturut turut(yang sama sekali tdk ada hubungannya dengan bisnis) tapi merupakan pribadi yang bisa diteladani dalam hal kesetiaan dan kemampuan-nya untuk bertekun dalam pelatihan untuk menggapai mimpi kelas dunia (prinsip bayar harga).

Nilai nilai yang kita bisa kumpulkan, pelajari dan serap ini apabila bisa di duplikasi, dapat merupakan faktor faktor penentu yang sangat penting dalam mengelola dan membesarkan usaha yang dicita cita kan.

Menurut saya semakin banyak mentor berarti makin banyak jenis variasi pengajaran, nasihat dan inspirasi yang bisa dikuasai. Apabila pengetahuan ini dikombinasikan dengan konsistensi dan kecakapan dalam eksekusi dilapangan, maka dampaknya akan sangat dahsyat pada bisnis yang ditekuni.

Nah, yang menjadi inti dari topik tulisan ini adalah orang tua sendiri.

Banyak sekali calon pebisnis yang mengabai-kan atau bahkan sama sekali tdk memperhitungkan orang tua sebagai model ideal untuk menjadi salah satu mentor mereka.
Banyak sekali yang tdk terpikirkan atau tdk berminat sama sekali untuk meng-idola-kan orang tua mereka sendiri.
Banyak alasan yang dikemukakan seperti; bahasa yang dipakai orang tua 'bukan bahasa gue banget', ukuran usaha orangtua gue khan nggak ada apa apanya dibanding model sempurna yg "pantas" jadi idola gue, orang tua gue bukan orang bisnis,jadi pasti nggak tahu apa apa soal bisnis, dan banyak lagi.

Menurut saya pribadi, rahasia bisnis yang berhasil bukan dari menguasai banyaknya varian varian persoalan bisnis (esensial tapi bukan faktor penentu), tapi menguasai prinsip prinsip dasar dan cara cara bisnis bekerja dengan benar dan kokoh.

Beberapa buku kopingho dan cerita kungfu yang saya baca juga bilang hal yang sama; jurus jurus rahasia yang dahsyat hanya merupakan pengembangan dari jurus jurus dasar yang dilakukan secara istimewa.
Penting untuk menguasai varian varian bisnis, tapi jauh lebih penting untuk memahami secara utuh prinsip prinsip dasarnya.
Lebih jauh lagi, saya berpendapat bahwan prinsip prinsip dasar bisnis adalah sama dengan prinsip prinsip dasar dalam hidup, militer, rohani, organisasi sosial dan lain sebagainya. Berlaku universal.
Misalnya: Karakter yang kurang baik akan menghalangi kesempatan yang lebih besar, karakter lebih menentukan sukses daripada skill, mereka yang cakap akan perkara kecil maka juga akan cakap dalam perkara besar dan masih banyak lagi.


Nah, kalau cuma sekedar prinsip, saya lebih dari percaya orang tua kita pun menguasai nya. dan menurut saya, apabila kita benar benar mau belajar dari orangtua kita sendiri, akan ada banyak hal hal yang kita bisa serap dan mereka tentu nya akan dengan senang hati membagikan semua yang mereka ketahui kepada kita.

Penghalang terbesar dalam proses kita belajar melalui orang tua kita sendiri adalah sikap hati kita yang salah. kita berpendapat karena orang tua kita tidak seberhasil / sekaya yang kita harapkan, pasti kadar nasihatnya juga ala kadarnya.
Atau kita berpendapat, karena orangtua kita gagal dalam banyak area, maka mereka pasti tdk mengerti prinsip prinsip untuk berhasil. ini totally salah.

Menurut saya, sebetulnya rahasia berhasil sangat sederhana dan tidak perlu dicari jauh jauh, seperti kerja keras, kemampuan berhemat serta menabung, visi besar, belajar secara berkelanjutan, mau mendengarkan orang lain, rendah hati, karakter yang bersedia dibentuk, tabah, setia sampai akhir, konsisten, bisa dipercaya, kemampuan empati yg besar terhadap pihak lain, kemauan utk tdk mau kalah dan banyak hal lain yang sebetulnya sudah pernah kita dengar ratusan kali.

Kalaupun orang tua kita gagal dalam banyak area, bukan berarti mereka tdk tahu, tapi mungkin mereka kurang konsisten dalam proses pelaksanaannya.
Tapi kalaupun itu benar yang terjadi, maka adalah jauh lebih baik mempelajari kegagalan daripada mempelajari kemenangan.
Dalam gagal kita bisa belajar secara pasti apa yang menyebabkan kegagalan, tapi dalam menang kita hanya bisa mengira ngira faktor mana yang membuat dia menang secara mutlak.

Poin lain lagi adalah, belum tentu orang lain akan mem-beber-kan rahasia bisnis nya secara utuh, sementara orang tua sendiri akan membagikan semua yang dia punya demi melihat kita menjadi lebih baik dari sekarang ini.

Dulu saya pribadi, dalam proses pembelajaran awal saya selalu meng agung agung kan nasihat orang lain dibanding orangtua saya sendiri karena alasan yang sama seperti diatas, tapi makin hari saya makin sadar sebetulnya apa yang orang lain ajarkan ke saya hanya merupakan pengembangan dasar dari apa yang saya sudah terima dari orang tua saya dimasa lalu, cuma beda bahasa, contoh dan varian. Prinsip prinsip dasar nya sama saja menurut saya.
Bahkan kalau saya mau merenungkan dengan lebih baik, banyak nasihat orangtua saya sendiri yang bahkan tdk diajarkan oleh orang orang besar diluar sana.

Makanya kalau sekarang, saya sering menegur adik adik saya apabila mereka sering meng-abai-kan nasiha nasihat orang tua saya karena dulupun saya pernah lewati fase itu sampai akhirnya saya "dicerahkan" bahwa itu sepenuhnya salah dan potentially menghambat pertumbuhan kami yang seharusnya bisa lebih maksimal.

Saya pribadi juga sering berpendapat lucu kalau sampai ada orang yang mau membayar seminar motivasi untuk bisa meningkatkan kesuksesan seharga sampai dengan $ 5000 dengan tujuan utk menemukan prinsip prinsip baru yang "spektakuler".

Padahal kalaupun ditemukan prinsip prinsip yang "spektakuler" tersebut itu merupakan hanya kembangan dari prinsip prinsip dasar yang kita semua sudah pernah dapatkan dari orangtua kita sendiri secara sadar atau tidak sadar atau kalaupun tidak pernah kita dengar sebelumnya, itu pun bukan prinsip yang benar benar asing bagi orang tua kita asalkan kita mau gali lebih dalam. Jadi bedanya hanya pada sikap hati yang benar pada saat belajar dari orang tua kita.

Bukan maksud saya untuk menolak menghadiri seminar seminar semacam itu, hanya saja saya percaya, tdk semua hal baik itu harus dibeli & saya percaya banyak dari mereka sebetulnya tersedia secara gratis.

Ada satu prinsip bagus yang memberkati saya dan berharap bisa related dng tulisan ini;
Sebetulnya jawaban dari semua persoalan persoalan yang kita hadapi sudah bisa kita identifikasikan dari awal, hanya saja yang bikin itu rumit adalah karena kita merasa jawaban itu terlalu mudah dan mencoba hal hal yang lebih kompleks.

Tapi kalaupun masih ada yang mau ber-argument bahwa orangtuanya benar benar minim akan pengetahuan tentang kesuksesan dikarenakan yang terjelek adalah karena orangtuanya tdk tahu membaca, punya reputasi keberhasilan yang benar benar tdk bisa dibanggakan dan luarbiasa terbatas dalam banyak hal, saya percaya dan sangat percaya setidaknya orangtuanya masih bisa mengajarkan etos kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab.

Menurut saya pribadi dengan 3 prinsip paling minim pun, keberhasilan bukan hal yang mustahil diraih, sejauh itu memang kita pegang luar bisa kuat. karena ada prinsip yang berhubungan yaitu:
JAuh lebih baik dan berguna apabila kita hanya menguasai dan mempraktekkan 2 atau 3 prinsip sederhana secara kuat dan kokoh dibanding-kan kita tahu ribuan prinsip prinsip kompleks, tapi dalam pelaksanaannya tdk ada satupun yang kita kuasai dengan baik.

Saya berharap tulisan ini bisa membuat kita lebih menghargai orang tua kita sendiri sebagai salah satu mentor yang paling berharga yang kita miliki karena saya lebih dari sekedar percaya bahwa dukungan, support dan doa doa mereka menghasilkan "keberuntungan bisnis" yang lebih dahsyat dari cuma sekedar modal dalam bentuk uang, pendidikan / pengetahuan ataupun keunggulan fisik.

Tuhan memberkati setiap pejuang yang bertekun hingga akhir.



Wishnu iriyanto

1 comment:

Anonymous said...

menurut saya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari mentor, carilah mentor yang dekat dengan kita.