Saturday, October 4, 2008

Pelajaran bisnis dari amsal salomo bagian 12

Prinsip:

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan
siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya,
ada yang menghemat secara luarbiasa, namun selalu berkekurangan
Orang yang baik hati akan diberkati,
karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.



Saya pernah punya beberapa pikiran liar dimasa lalu.
Saya pernah bertanya-tanya dalam hati kenapa Tuhan membiarkan orang kaya menjadi makin kaya dan ada orang miskin yang menjadi makin miskin, juga ada pemikiran “ajaib” lain yang timbul yaitu, kenapa ada orang taat beragama tetapi tidak kaya tetapi ada orang yang tidak percaya agama dan Tuhan (yang kita percaya sebagai pemberi berkat), malahan kaya raya.

Bertahun tahun saya mempertanyakan hal ini sampai suatu saat ada satu kotbah di gereja yang menjelaskan fenomena ini. Kurang lebih bunyinya sebagai berikut;

Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut hukum-hukumnya.
Hukum hukum alam semesta ini berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali, termasuk mereka yang beragama atau tidak, miskin atau kaya, tua atau muda dan laki laki atau perempuan.

Manusia yang tidak beragama tetapi bila mereka mengerti dan konsisten menjalankan hukum hukum alam semesta maka mereka akan tetap bisa menerima segala efek positif dari tindakannya.

Sementara mereka yang mengaku beragama bahkan sampai pada tataaran religius sekalipun, bila mereka mengerti tapi tidak melaksanakan hukum hukum alam semesta dengan benar, ya jangan harap menerima akibat baik dari tindakan yang tidak dilakukannya.

Karena pada dasarnya Tuhan mengasihi semua manusia dan tentu saja adil dalam perbuatannya.

Beberapa contoh kecil hukum alam secara umum yang berbicara dalam kaitannya dengan kemakmuran dan keuangan misalnya; siapa yang rajin akan menikmati hasilnya yang baik, mereka yang bekerja keras akan makin beruntung hidupnya serta salah satu hukum alam yang terpenting adalah mereka yang sering menabur akan juga sering menuai, bahkan hasilnya bisa berlipat ganda.

Menabur disini bukan hanya berarti sekedar aktivitas seperti yang dilakukan oleh para petani yang menaburkan benihnya diladang, tetapi mempunyai arti yang lebih luas lagi.

Menabur disini berarti membagikan berkat yang sudah kita terima kepada mereka yang membutuhkan pertolongan disekeliling kita dan tidak hanya menyimpannya untuk kita atau keluarga atau kelompok kita sendiri.

Mungkin saat ini kita ber-argue kalau posisi keuangan kita tidak cukup bagus, bahkan pendapatan yang kita hasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hanya saja itu tetap bukan alasan untuk kita tidak menolong orang susah, orang orang menderita dan orang orang miskin diluar sana, karena tindakan menabur bukanlah suatu tindakan pemborosan yang sia-sia melainkan bersifat investasi.

Mari saya kasih contoh kenapa ada orang orang yang miskin menjadi makin miskin sementara yang kaya menjadi makin kaya dalam kaitannya dengan berinvestasi terhadap orang orang lemah dan menderita kekurangan.

Menolong orang lain seringkali bukan ditentukan oleh berapa banyak keuangan kita, tetapi seberapa besar mental memberi dalam diri kita.
Mental memberi menggambarkan hati yang kaya.

Kenapa banyak orang orang kaya kuat dalam memberi, itu semata mata bukan hanya karena mereka berkelebihan, itu karena mereka mengerti dengan baik bagaimana pertolongan yang mereka tabur akan dapat dinikmati kembali oleh mereka atau keturunannya yang berikutnya, baik dalam bentuk pertolongan pada saat mereka atau keturunannya sedang dalam kesulitan ataupun mereka atau keturunannya menjadi makin beruntung dalam semua yang mereka lakukan.

Secara sederhana, mereka menabur karena mereka mengerti dengan baik bagaimana prinsip uang dan berkat bekerja dan semua kebenaran hukum tabur tuai.

Sementara ada orang orang yang karena kesulitan keuangan berpendapat bahwa mereka akan menolong bila keuangan mereka sudah longgar.
Pemikiran ini bisa menjadi seperti lingkaran setan dalam siklus kehidupan.
Pemikiran berbahaya ini bisa malah membuat kita makin terperosok ke dalam kesulitan yang lebih kompleks.

Persamaan analogi;
ada seorang yang dalam posisi kesulitan keuangan yang berpendapat pendidikan itu mahal. Mungkin ia benar.
Hanya saja bila karena kesulitan keuangannya dia memutuskan untuk tidak berinvestasi dalam pendidikan dia sendiri maupun anak anaknya dan berpikir, kalau nanti saya banyak uang baru saya akan meng up-grade skill saya atau sekolahkan anak anak saya, maka tidak heran kalau dia dan generasi generasi dibawahnya malah makin terperosok didalam kesulitan hidup karena makin lemahnya daya saing dia maupun anak anaknya di area pendidikan dan keahlian di tengah persaingan dunia yang begitu keras dan berkembang demikian pesat.

Sama persis dengan menabur, makin kita kurangi (apapun alasannya), malah membuat kita makin sulit untuk keluar dari lingkaran kesulitan keuangan.

Jadi menabur bukanlah satu pilihan, itu adalah satu keharusan, apapun kondisi kita dan pada saat kita makin sulit, seharusnya kita menabur makin banyak.

Menabur / berinvestasi adalah pola pikir, tindakan dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang orang kaya, makanya mereka yang ingin kaya, harus berpikir dan bertindak serta mempunyai kebiasaan sebagai layaknya orang kaya terlebih dahulu.
Dan saya percaya ini sama seperti SUKSES, mereka yang mau sukses harus terlebih dahulu berpikir, bertindak dan memiliki kebiasaan seperti layaknya orang sukses.

Tapi ada satu hal yang harus diketahui baik-baik pada saat kita menabur, karena bila motif kita salah yaitu karena ingin dipuji manusia lain, maka sebetulnya kita sudah menuai dini dari apa yang baru saja kita tabur.

Sebagai penutup marilah kita merenungkan pola & kebiasaan orang kaya didunia, seperti contoh kecil yang kita sudah sama sama tahu yaitu pemilik Microsoft dan dinasti Rockefeller, dimana mereka telah dan masih terus menabur dalam jumlah luarbiasa besar terhadap anak-anak di negara negara dunia ketiga, research research centre yang bertugas menemukan obat-obat untuk mengurangi angka kematian, kaum tunawisma, pendidikan bagi mereka yang miskin, makanan bagi mereka yang lapar dll.

Tidakkah kita bertanya tanya dalam hati kenapa sampai pada hari ini mereka terus makin kaya dari hari kehari dan makin beruntung dalam setiap usaha yang mereka kerjakan dari waktu ke waktu?

Tuhan memberkati setiap pejuang yang bertekun dalam panggilannya.


Wishnu iriyanto

Managing Director of

FUTURE education (agent sekolah ke luar negeri)
&
FUTURE English (Satu-satunya kursus bahasa inggris bergaransi IELTS 6.5 / TOEFL 580 dengan angka keberhasilan 100%)

No comments: