3 orang bijak menempuh perjalanan jauh, sebab walaupun mereka itu dianggap bijak di Negara sendiri, mereka cukup rendah hati untuk berharap, bahwa perjalanan itu akan memperluas pikiran mereka.
Mereka baru saja melangkah perbatasan masuk Negara tetangga ketika mereka melihat gedung cakar-langit dikejauhan. Apa kiranya benda dahsyat-hebat ini, mereka bertanya pada dirinya.
Jawaban yang tepat tentunya; Datang dan selidikilah benda itu apa. Tetapi tidak, mungkin itu terlalu berbahaya.
Seandainya itu sesuatu yang meletus kalau orang mendekat?
MAka jauh lebih bijaksana menentukan dulu apa itu sebelum menyelidikinya.
Berbagai pandangan diajukan, diuji dan atas dasar pengalaman mereka yang sudah sudah, ditolak.
Akhirnya diputuskan, juga atas dasar pengalaman masa silam, yang mereka miliki bertumpah ruah, bahwa benda tersebut, entah apa jenisnya, hanya bisa ditempatkan disana oleh kawanan raksasa.
Ini membawa mereka pada kesimpulan, bahwa lebih aman mereka menyingkiri tanah itu sama sekali, maka mereka pulang kembali setelah menambahkan sesuatu pada khasanah pengalaman mereka.
Pengandaian itu mempengaruhi penelitian.
Penelitian menghasilkan keyakinan.
Keyakinan menimbulkan pengalaman.
Pengalaman membuahkan tindakan,
Yang pada gilirannya, menguatkan pengandaian.
(dikutip dari buku; Doa sang katak 1, karangan Anthony de mello)
------------------------------------------------------------------------------------
PAda waktu kecil dahulu, saya sempat tinggal di daerah / kawasan yang bisa dibilang merupakan daerah dimana rata rata penduduknya berpendidikan rendah dan secara ekonomi, sebagian besar warganya dari kalangan kurang berhasil secara ekonomi.
Itu adalah masa dimana saya bersekolah dari awal kelas 2 SD sampai akhir kelas 3 SD, disekolah setempat.
Saya bergaul dengan begitu banyak teman dari lingkungan sekitar dan yang rata rata sedikit lebih tua dari saya.
Seingat saya, mereka semua umumnya adalah orang orang baik, tulus dan menyenangkan walau terlampau sering mereka memperlihatkan sikap sikap negative terhadap kehidupan ala kanak kanak.
Sebetulnya tidak ada yang salah dari pergaulan saya saat itu, kecuali keberadaan saya yang ada dalam satu lingkungan yang umumnya terbelenggu oleh pemahaman yang salah dan sayangnya diderita secara kolektif.
Kenapa saya bilang mereka terbelenggu oleh pemahaman yang salah sebetulnya bisa tergambar dari kejadian kejadian kecil seperti dibawah ini.
Dari sejak kecil sekali, saya selalu punya keinginan menjadi seorang yang mampu secara keuangan. Keuangan keluarga yang pas-pas an saat itu membuat saya berpikir kalau seorang yang mampu secara keuangan artinya bisa beli mainan sesuka hati dan makan di Kentucky fried chicken sepuasnya (hei, jaman itu makan di KFC sudah merupakan salah satu symbol kemewahan).
KAlau sedang duduk duduk sama teman ditanah kosong di samping rumah dibawah pohon kedondong besar, saya sering bilang sama teman teman bermain yang lebih tua itu betapa enaknya jadi orang kaya, apa saja bisa dibeli.
Atau saya ucapkan khayalan saya betapa bahagianya bila kita semua bisa punya rumah bagus sendiri (bukan kontrakan seperti yang saya dan teman teman pada umumnya tinggali).
Dan tebak, jawaban model kanak kanak apa yang saya terima dari teman teman tersebut?
“Jangan mimpi lo”.
“ Emangnya elo superman?”
“ Emangnya elo jenius kayak habibie dan Einstein?’
‘ Emangnya elo anak orang kaya? khan cuma anak orang kaya yang bisa jadi kaya lagi.”
Dan memang, dengan pemahaman dan pengetahuan yang terbatas, apa yang mereka katakan masuk dan bisa diterima oleh benak kanak kanak saya.
Dulu kita tahunya kalau orang kaya pasti seperti seorang yang nggak injak bumi karena begitu hebatnya dia, seorang yang pintar dan lulusan sekolah luar negeri seperti bos bosnya papa saya di kantor pemerintah.
Dan dengan pengetahuan terbatas, saya juga menangkap bahwa anak orang kaya memang lebih pantas dan lebih masuk akal untuk kemudian jadi orang kaya berikutnya daripada anak orang biasa biasa saja,
Semua pengetahuan yang terbatas itu memperkuat pangandaian dan kesimpulan kanak kanak saya.
Pada akhirnya, sadar atau tidak sadar, kesimpulan itu tertanam cukup lama untuk kemudian membekas di benak saya dan sepertinya menjadi satu kebenaran tersendiri.
Tapi kemudian, seiring dengan perjalanan waktu, dan dengan bacaan saya yang bertambah serta pengetahuan yang dikuasai makin kompleks, saya menyadari ada yang salah dengan settingan pemikiran masa kecil saya.
Saya membaca dimana ada kok orang orang yang tidak jenius secara akademik dan bahkan buta huruf tapi bisa kaya.
Saya mengumpulkan cerita cerita dimana ada banyak orang yang sekedar sekolah sekedarnya tapi bisa kaya raya.
Saya menyaksikan ada begitu banyak anak anak orang yang awalnya begitu susah secara ekonomi tapi mampu membalikkan menjadi sangat kaya dimasa dewasanya.
Saya bergaul dan mendengar cerita dari teman teman saya yang kebetulan anak anak orang kaya dan bercerita bahwa orangtuanya bukanlah superman / superwoman. Dan pertemuan dengan mereka ketika bertamu kerumahnya menguatkan cerita cerita itu.
Tapi yang paling ekstrem adalah ketika saya bertemu dengan ribuan (bukan sombong) orang orang kaya dari seluruh pelosok indonesia melalui pekerjaan saya ini dimana kami membantu anak anak yang hendak bersekolah keluar negeri.
Dan apa yang saya temukan adalah, mereka nggak beda terlalu banyak dengan orang orang lain dan sangat manusiawi.
Mereka bukanlah orang yang punya sayap dan bisa terbang dalam artian harafiah.
Kelebihan kelebihan mereka seringkali berjumlah tidak terlalu banyak dibanding orang orang biasa, walau dari kelebihan yang sebetulnya jumlahnya tidak banyak itu, perbedaan kualitas kelebihannya sangatlah besar.
Dan sebetulnya, apa sih yang akhirnya buat mereka bisa jadi orang orang kaya sementara orang orang lain dengan kapasitas sejenis tidak menjadi kaya?
Ya, tidak jauh jauh dari tema tulisan tulisan saya sebelumnya yaitu;
Punya pola pemikiran yang benar.
Punya iman untuk menjadi kaya yang benar.
Memegang prinsip prinsip hidup yang benar.
Memiliki krakter karakter pribadi yang benar.
Bergaul akrab dengan orang orang yang benar.
Membaca buku buku yang benar.
Berinvestasi di area area yang benar, seperti menolong orang orang susah, berkontribusi aktif membantu orang/komunitas mencapai hidup yang lebih baik yang pada akhirnya mendatangkan berkat yang benar dalam hidup mereka.
Serta melakukan hal hal benar lainnya yang sebetulnya sedari awal sekali terlihat seperti hal hal kecil tapi ternyata membawa dampak yang totally berbeda pada akhir perlombaan hidup.
Doa saya, kita semua dilepaskan dari belenggu pemahaman / pemikiran / pengandaian / kesimpulan yang salah dan diberi pemahaman / pemikiran / pengandaian dan kesimpulan yang benar dan segar yang bisa bawa kita semua pergi ke sebuah titik kehidupan yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya sejak jaman kanak kanak dahulu yang berisi susu-madu kehidupan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran.
Tuhan memberkati dan melindungi setiap pejuang yang bertekun dalam merintis jalan hidupnya.
Wishnu iriyanto
Managing Director of
FUTURE education (agent sekolah ke luar negeri)
&
FUTURE English (Satu-satunya kursus bahasa inggris bergaransi IELTS 6.5 / TOEFL 580 dengan angka keberhasilan 100%)
Friendster;
Nama; Wishnu iriyanto
Lokasi; Melbourne
http://wishnuiriyanto.blogspot.com
No comments:
Post a Comment