Saturday, October 4, 2008

Pelajaran dari amsal salomo bagian 13

Prinsip:

Kekuatiran didalam hati
Membungkukkan orang.



Memelihara kekuatiran sama seperti halnya memelihara kebencian, keduanya menghabiskan begitu banyak energi positif yang berharga dari anda.
Menumbuhkan pemikiran yang POSITIF sama seperti halnya menumbuhkan KASIH, keduanya justru menambahkan bukan mengambil.

-wishnu-



Beberapa waktu lalu saya berbicara di telephone dengan seorang teman lama yang beberapa tahun lebih muda dari saya dan berdomisili disalah satu kota di Sulawesi utara.
Kita berbicara beberapa topik mengenai hal hal umum sampai pada topik mengenai prospek dunia usaha di Indonesia saat ini.

Untuk area pembicaraan ini dia berpendapat kalau semua indikasi ekonomi memperlihatkan kalau bisnis-bisnis di Indonesia secara umum akan sangat menderita dalam jangka waktu yang lama.
Mengingat dia adalah seorang yang intelek dan berwawasan luas, maka sayapun tidak menyanggah argument-nya dan fakta-fakta pendukung yang menyertai.

Di akhir semua argument tentang betapa ekonomi dan atmosfir bisnis Indonesia masih akan tetap stagnan (kalau tidak mau disebut memburuk), dia menambahkan itulah alasannya untuk tidak mau masuk kedunia bisnis saat ini apalagi ditambah kenyataan lain yang sangat krusial dimana dia tinggal dikota yang relatif sangat kecil dibandingkan Jakarta, dimana perputaran uang terhitung sangatlah kecil.

Saya tidak bisa mengomentari langsung semua pendapatnya secara frontal karena beberapa alasan pribadi, hanya saja saya mencoba membawa pendapat dari perspektif yang berbeda menurut apa yang saya lihat, rasa, alami dan simpulkan.

Menurut saya, tidak salah untuk berpendapat bahwa ekonomi kita stagnan dan semua indikator memperlihatkan kita masih akan terus bergumul dengan situasi ini untuk jangka waktu yang lama (walau ada pejabat tinggi negara yang bilang bahwa kemajuan kemajuan berarti sudah dicapai dan di claim sebagai keberhasilan pemerintahannya dan dalam beberapa tahun kedepan, bahkan Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia), hanya saja saya mencoba untuk tetap positif dalam memandangnya.

Saya berkata pada teman ini, menurut saya semua kesulitan ini sifatnya hanyalah sementara, dan dibanding kita memandangnya sebagai masa sulit, ada baiknya kita memandang ini sebagai masa persiapan dan fase penyaringan.

Masa persiapan artinya saat saat dimana kita sedang mempersiapkan diri untuk menyambut sesuatu yang besar yang akan terjadi.
Masa dimana kita sedang mempersiapkan semua pondasi pondasi bisnis kita, membangun jam terbang pribadi dan belajar menutupi semua kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita.

Karena menurut pendapat saya, pada saatnya nanti, keadaan dimana ekonomi Indonesia sudah pulih normal, maka mereka yang paling menikmati situasi itu adalah mereka yang sudah settle di pasar maupun di mata konsumen, setiap pemain baru yang memutuskan ingin ikut bermain didalamnya pastilah butuh beberapa waktu terlebih dahulu sebelum mereka akhirnya mampu memiliki pegangan yang stabil dalam ekonomi masa depan.

Jadi mereka yang sudah berinvestasi dimasa masa sulit ini dalam membangun pijakan (penguasaan medan & pengetahuan yang utuh tentang industri yang ditekuni) maupun pegangan kokoh (basis konsumen yang setia dan bertumbuh) saya percaya akan menikmati panen-an pada saat Indonesia pulih.

Dalam istilah balap motor disebut mencuri start (konotasi positif).

Fase penyaringan artinya pada masa masa sulit dan uang ketat ini sebetulnya adalah fase dimana pebisnis yang cakap maupun tidak cakap akan disaring dengan jarring jaring yang sangat rapat. Saya percaya mereka yang tidak cukup bagus akan tersingkir dengan alami dan mereka yang mampu bertumbuh dan membuktikan dirinya cakap dalam mengelola usaha yang Tuhan percayakan padanya, akan tetap survive.

Di fase penyaringan ini juga akan bisa dilihat siapa-siapa yang punya mental menang dan siapa-siapa yang tidak. Karena misalnya dari sisi pelayanan saja, hari hari belakangan ini konsumen dengan tingkat margin yang tipis saja pasti menuntut pelayanan yang prima, saya percaya tidak semua pemain dipasar bisa menyesuaikan diri terhadap situasi extrem ini. Mereka yang gagal untuk menjadi efisien dan secara terus menerus memperbaiki diri maupun organisasi yang dikelolanya, akan mendapati dirinya terlempar dari gelanggang permainan.

Nah saya percaya sekali siapapun yang bisa membuktikan dirinya cakap, mempunyai cukup mental menang dan bisa survive dimasa sulit, maka pada saat tiba masa pemulihan ekonomi Indonesia, merekalah yang akan paling menikmati buah-buah persiapan mereka.

Untuk point dari teman saya dimana ia berasal dari kota yang relatif kecil dan memiliki perputaran uang yang jauh lebih sedikit dibandingkan Jakarta, saya berpendapat itu justru harus dipandang sebagai suatu kelebihan / keunggulan.

Kalau kita mengamati siapa pemain pemain bisnis kuat dan stabil di Jakarta di sebagian besar industri, sebetulnya kita akan mendapati bahwa pebisnis di Jakarta di monopoli oleh pemain daerah.
Entah itu dari Jawa, makassar, pelembang, bangka, belitung, lampung, medan, pontianak dan banyak kota kecil lainnya.

Mengingat sulitnya menciptakan bisnis dan mengembangkan bisnis didaerah yang relatif terhitung sebagai pasar yang sangat kompetitif, dimana kadang ada konsumen yang demi menghemat Rp 100 saja rela kelilingi satu pasar untuk menemukan toko termurah, maka siapapun yang akhirnya bisa bertahan dan menang, berarti telah memperlihatkan mental menang yang sangat kuat dalam dirinya.

Maka bila dia memutuskan untuk bertarung dalam skala yang lebih besar seperti di Jakarta, maka peluang menangnya sangatlah besar, mengingat Jakarta sebagai kota yang relatif lebih longgar dalam hal tingkat ke-kompetitif-an dibanding kota kota kecil Indonesia lainnya.

Bukankah ada prinsip kebenaran kuno yang sangat relevan berbunyi:
Siapa yang cakap dalam perkara kecil, maka pastilah ia cakap juga untuk perkara yang besar.

Sebagai penutup, pertama tama saya harus mengingatkan semua orang yang membaca tulisan ini agar jangan memandang tulisan ini sebagai dorongan untuk menerjuni dunia bisnis tanpa persiapan yang baik dan bersifat membabi-buta tanpa mengerti dengan jelas semua konsekuensi yang menyertainya, tapi tujuan tulisan ini dibuat agar hendaklah jangan sampai karena keKUATIRan yang berlebihan membuat kita akhirnya memutuskan untuk bersikap apatis, pasrah dan menyerah terhadap situasi saat ini, tapi biarlah kita tetap mampu untuk tetap positif dalam kondisi paling ekstrem sekali-pun dan terus mempersiapkan diri untuk memasuki masa pemulihan Indonesia yang PASTI akan terjadi baik cepat atau lambat sebagai pemain aktif, bukan hanya sebagai penonton setia dari luar panggung.



Tuhan memberkati setiap pejuang yang bertekun dalam panggilannya.


Wishnu iriyanto

Managing Director of

FUTURE education (agent sekolah ke luar negeri)
&
FUTURE English (Satu-satunya kursus bahasa inggris bergaransi IELTS 6.5 / TOEFL 580 dengan angka keberhasilan 100%)

No comments: